Konsep Kecerdasan Manusia dalam Pembelajaran

0
28
Konsep kecerdasan manusia

Kecerdasan manusia adalah Anugrah istimewa yang dimiliki oleh manusia. Makhluk lain memiliki kecerdasan yang terbatas sedangkan manusia tidak. Dalam konsep Kecerdasan ini manusia mampu memahami segala fenomena kehidupan secara mendalam.

Dan dapat mengambil hikmah dan normanya, Dengan Konsep kecerdasan demikian manusia menjadi lebih bijak dan beradab karena memiliki kecerdasan.

Oleh karena itu konsep kecerdasan sangat di perlukan oleh manusia guna sebagai alat bantu menjalani kehidupannya di dunia.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kecerdasan adalah

perihal cerdas, perbuatan mencerdaskan, kesempurnaan pengembangan akal budi ( seperti kepandaian, ketajaman, akal pikiran. Konsep kecerdasan tersebut menghendaki kesempurnaan akal manusia serta budi yang meliputi kepandaian dan Optimalisasi berfikir.

Pengertian IQ, EQ, SQ

Kecerdasan Intelektual (IQ) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang. IQ merupakan kecerdasan otak untuk menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi fakta.

Kecerdasan Spiritual (SQ), adalah kemampuan seseorang untuk mengerti dan memberi makna, pada apa yang di hadapi dalam kehidupan.

sehingga seseorang akan memiliki fleksibilitas dalam menghadapi persoalan dimasyarakat.

Kecerdasan Emosional (EQ), adalah kemampuan mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain.

kemampuan memotivasi diri sendiri, serta kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan orang lain.

Konsep kecerdasan manusia dalam proses belajar

Bagaimana Perbedaan IQ, SQ dan EQ

Kecerdasan intelektual memiliki peranan penting dalam kehidupan setiap individu. Karena, IQ merupakan kecerdasan yang dimiliki oleh otak manusia yang dapat melakukan

beberapa kemampuan seperti :

kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar serta mengambil keputusan dan menjalankan keputusan tersebut.

Orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual yang baik, baginya, tidak ada informasi yang sulit.

Semuanya dapat disimpan dan diolah, untuk pada waktu yang dan pada saat dibutuhkan diolah dan diinformasikan kembali.

Sama seperti halnya IQ, EQ juga memiliki peranan penting dalam kehidupan setiap individu.

Menurut Goleman bahwa EQ memiliki kontribusi penting dalam kesuksesan seseorang, bahkan melebihi dari IQ. IQ mengangkat fungsi pikiran, sedangkan EQ mengangkat fungsi perasaan.

kecerdasan manusia IQ, EQ dan SQ memiliki kontribusi yang penting

Orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi, akan berupaya :

  • menciptakan keseimbangan dalam dirinya
  • mengusahakan kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri Bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.
  • memiliki kemampuan untuk mengenal diri sendiri
  • kemampuan mengelola emosi
  • kemampuan memotivasi diri dan berhubungan dengan orang lain
  • kesadaran akan emosi orang lain (kemampuan mendengarkan, merasakan atau mengintuisikan perasaan orang lain dari kata, bahasa tubuh maupun petunjuk lain
  • kemampuan untuk menggunakan perasaan yang muncul dari dalam
Substansi dari kecerdasan emosionoal adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi.
Orang yang EQ-nya baik dapat
  • memahami perasaan orang lain,
  • dapat membaca yang tersurat dan tersirat
  • dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal.

Semua pemahaman tersebut akan menuntun agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntunan lingkungannya.

Kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan.

Oleh karena itu, EQ mengajarkan, bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya dan terhadap orang lain.

dan kemampuan memahami orang lain yang memungkinkan setiap orang dapat mengelola konflik dengan orang lain secara baik.

Aplikasi Konsep IQ, EQ, SQ dalam Proses Pembelajaran

Aplikasi konsep kecerdasan manusia dalam proses pembelajaran

Penerapan IQ, EQ dan ESQ adalah perpaduan kunci sukses kita dalam menekuni suatu bidang ilmu.

Coba bayangkan :

jika orang yang unggul di bidang Intelektual Quetion (IQ), namun tidak bisa mengontrol Emosional Quetion (EQ), maka berdampak lah pada kepribadian yang individual dan cendrung mementingkan kepentingan pribadi dari pada kepentingan bersama.

Melakukan segala cara dengan harapan supaya menjadi yang terbaik. Kata bijak mengatakan bahwa ilmu tanpa agama itu buta dan agama tanpa ilmu itu pincang.

Sebagai contoh tokoh yang paling keren di muka bumi adalah Nabi Muhammad SAW. Seorang yang cerdas dalam pengetahuan sekaligus pandai dalam mengontrol emosi serta memiliki spiritual yang sangat baik kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad juga seorang manusia biasa hal ini bisa kita jadikan panutan dalam proses pembelajaran.

Dapat diketahui bagaimana ESQ berperan dalam kesuksesan Nabi Muhammad baik dalam berdakwah, berperang maupun dalam proses pendidikan agama kepada umatnya yang saat ini menjadi umat terbesar di dunia.

Seperti yang ditulis dalam buku Micheal Heart mengenai 100 tokoh yang berpengaruh di dunia menempatkan Nabi Muhammad menjadi urutan pertama.

ESQ (Emotional Spiritual Quotient) adalah program pembinaan pembentukan karakter kepemimpinan, yang menggabungkan kecerdasan emosional, spritual dan quotient.

Bapak Ary Ginanjar selaku pencetus konsep ESQ, mencoba menggabungkan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spritual (SQ) dalam satu  konsep yang saling terintergasi.

Ternyata dalam penggabungkan IQ dan EQ masih ada sesuatu yang kurang.

IQ dan EQ hanya berorientasi pada materi semata, padahal manusia juga memerlukan sisi spiritualitas di dalam hidupnya. Maka, muncullah istilah SQ.  Ketiga hal tersebut tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Dengan kata lain, ketiga kecerdasan tersebut saling berkesinambungan satu dengan yang lainnya. Dalam penelitian dari VS Ramachandran dan timnya dari California University pada tahun 1997 ditemukan eksistensi God Spot dalam  otak manusia sebagai pusat spiritual (spiritual center) yang terletak antara jaringan saraf dan otak.  

Namun, penemuan God Spot ini hanya sebatas wadah, seperti hardware di komputer. Oleh karena itu,  dalam bukunya, Bapak Ary Ginanjar Agustian membuat ESQ Model sebagai software dari God Spot untuk melakukan spiritual engineering sekaligus sebagai mekanisme penggabungan tiga kecerdasan manusia, yaitu EQ, IQ, dan SQ, dalam suatu kesatuan yang saling berkesinambungan.

Dari sini kita bisa memaknai perpaduan antara IQ,EQ dan ESQ inilah kemudian melahirkan generasi penerus bangsa yang berkarakter dan cinta tanah air ndonesia.

Seperti konsep bapak pendidikan indonesia  yaitu Ki Hajar Dewantara dimana manusia memiliki tiga  konsep jiwa antara lain cipta,rasa dan karsa yang nantinya sebagai cerminan pendidikan Indonesia dengan generasi yang cerdas Intelektual, Emosional dan Spiritual.

Hubungan antara Aspek Kognisi, Emosi & Konagsi dengan IQ, EQ, SQ

Semua orang menginginkan anak-anaknya bisa memiliki kecerdasan yang maksimal guna menjawab tantangan global yang semakin menuntut kita untuk terus melakukan proses perubahan menuju yang lebih baik.

Hanya orang yang tidak mempunyai kometmen yang tinggi untuk bisa bersaing di masa depannya sehingga melalaikan dirinya dan anak-anaknya dengan tidak memberikan arahan pada yang lebih baik.

Guna menjawab tantangan zaman, banyak hal yang harus di lakukan sejak dini, diantaranya adalah belajar.

Tanpa belajar kita tidak munkin mengetahui hal-hal yang baru, tanpa belajar pula manusia akan tereliminasi dalam kontes kehidupan ini. Lalu, bagaimana kita bisa belajar dengan baik? Atau kita sebagai calon guru.

Baca Juga : Cara Riset Keyword Akurat dan Tepat untuk Website SEO

Bagaimana kita bisa merangsang anak didik kita agar bisa menikmati yang namanya belajar? Sebagai calon guru yang professional harus bisa mengantarkan anak didik kita ke pintu gerbang kesuksesan.

Belajar adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membuat diri ini lebih baik.

Dalam belajar kita di pengaruhi dua faktor besar yaitu eksternal yang meliputi lingkungan, fasilitas belajar dan lain-lain. Dan factor internal yang meliputi motivasi, keinginan, kecerdasan (IQ, EQ dan SQ), perasaan (emosi), kehendak (konasi) dan pengenalan (kognisi).

Baca Juga : Cara Menulis Artikel SEO Friendly untuk Website

Untuk membuat suasana belajar yang nyaman dari siswa kita harus mengetahui seberapa besarkah kecerdasan mereka dalam menangkap pengajaran dari gurunya.

Hanya dengan begitu, kita bisa memberikan pelajaran sesuai dengan kapasitasnya, karena kalau tidak, otak mereka akan terbuang begitu saja karena memaksakan dirinya untuk paham pada materi yang tidak sesuai dengan kapsitasnya.

Baca juga : Cara Membuat Website Sendiri yang Mobile Friendly

Sebagai calon guru yang baik, kita harus bisa mengetahui kecenderungan dalam belajar anak didik kita sehingga dalam menyampaikan materi kita bisa di respon dengan baik oleh mereka.

Kita bukanlah seperti guru pada waktu dulu yang memaksakan kehendaknya, tapi kita hanya berfungsi sebagai fasilitator dengan memberikan stimulus pada peserta didik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here